Kali ini aku terdiam disebuah kursi taman yang
cukup ramai, dengan para pasangan yang sedang menikmati indahnya kebersamaan
kala itu. Aku sibuk dengan dunia khayal yang aku miliki, aku sibuk mencari
inspirasi untuk sebuah goresan kecil pada tulisanku ini. Pandanganku pun
beralih pada sosok pasangan yang begitu manis, perlakuan laki-laki itu
sangatlah lembut kepada perempuannya; bagaikan seekor kupu-kupu indah yang
menari diluasnya langit biru nan cerah. Mereka saling bersenda gurau seakan
mengingatkan aku pada bayangan masa lalu bersamamu. Dalam benak aku berbisik; dapatkah aku merasakannya kembali seperti
mereka?. Merasakan manisnya jatuh cinta, seperti aku terbang jauh
mengepakkan sayapku pada angkasa. Aku ingin merasakannya kembali, manisnya
cinta tanpa ada peliknya drama-drama. Aku merindukannya.
Setelah menikmati suasana pasangan itu, aku
bergegas bangun dari keramaian itu dan pergi. Aku pergi melintasi jalanan
panjang yang selalu aku lalui bersamamu (dulu). Sambil mengenang sejenak kisah
aku denganmu kala itu. Tanpa sadar, setetes demi tetes air mata membasahi
pipiku. Aku teringat bagaimana kamu mengakhiri semua hal indah yang telah
berada di genggamanku... bagaimana kamu dengan mudah melepas sebutir berlian
hanya karena untuk sebutir durian. Tajam tak berbau dan pahit. Ya, begitulah
cara kamu pergi tanpa alasan yang masuk akal, logika dan perasaan, aku tak
dapat mencerna sikapmu dengan gamblang. Semua begitu samar-samar untuk otak
yang tak berjalan cepat seperti aku.
Namun kini, aku sedikit memahami kenyataan
bahwa “jika ia memang menyayangimu. Ia tidak
akan pernah membuatmu menunggu tanpa sebuah kepastian”. Dan karena quote
itu, mata aku telah terbuka lebar, secara realitis aku memandang dan menilai
bahwa sesungguhnya Ia tidak menyayangi aku. Sakit? Jelas. Capek? Tentu. Tapi itu
semua t’lah berakhir, diujung harapan yang besar banyak hal indah jauh lebih
indah dari yang aku dapatkan hari ini. Hal bahagia yang t’lah Tuhan rancang
sedemikian unik dan menarik membuat aku bangkit, percaya bahwa kepedihan hari
ini bukanlah akhir dari segalanya. Memberi nasihat atau semangat kepada diri
sendiri itu bukanlah perkara mudah, semua membutuhkan proses yang naik turun
antara berdebatan hati dan pikiran. Aku bukan orang yang akan menyimpan ribuan
dendam untuk setiap orang yang menyakiti aku akhirnya, aku akan selalu
memaafkan dan melempar senyuman indah pada mereka, termaksud kamu. Lalu aku
pergi, memberi kenyataan sebuah aksi nyata kepadamu bahwa rancangan Tuhan yang
menyakitkan itu ada dengan kata lain; KARMA. Itu cara aku menanti keajaiban
Tuhan dengan segala jalan cerita yang telah Ia rancang untuk hidup ini. Dan tak
perlu lagi ada yang namanya balas dendam, atau apalah itu kepada kamu. Karena Tuhan
tau apa yang aku butuhkan ketimbang apa yang aku inginkan.
I
don’t know what you're feeling at the time, but I know if at that time there
was a sense that is very painful for me. Thanks! – Masa Lalumu