Rabu, 12 Agustus 2015

6bulan Bersamamu~



Bukan karena aku tak mampu untuk menghilangkan bayang-bayang tentangmu, namun bayangmulah yang memaksa untuk merasuki ke dalam pikiranku. Kamu akan mengerti betapa sulitnya posisiku ini terhadapmu, aku ingin tetap maju tanpa ada kata mundur tapi keadaan selalu menginginkan untuk aku mundur. Adilkah jika aku mundur dan orang lain yang berhak memilikimu tanpa adanya perjuangan? Bagiku ini tak adil!
Senyuman manis itu, tawa canda hangat itu, suara motormu yang terdengar berat, kacamata yang menghiasi matamu, jemari tanganmu yang membuatku merasa aman bersamamu dan bisikan lembut dari suaramu yang menggelitik telingaku. Masih tetap sama, tetap sangat begitu memikat hati dan membuatku tersenyum semringah layaknya orang yang sedang dimabuk cinta ketika aku mengingatnya.
 Sebulan, 2 bulan percakapan antara kita terus bergulir walau tak begitu sering. Kita semakin dekat seperti kakak-adik, kita selalu bertemu menghabiskan waktu malam dengan canda tawa dan tingkah konyol yang kita lakukan, saling memberikan sebuah ledekan kecil yang sangat manis. Hingga pada akhirnya semua berakhir dengan kecupan hangat didahiku saat mengakhiri percakapan. Begitu manis masa-masa itu yang kita lewati. Namun mungkin benar jika status kakak-adik itu hanyalah status yang tertunda karena tak akan terjadinya sebuah hubungan yang lebih dari itu.
Selang waktu 6 bulan, tak terasa hubungan ini semakin tak jelas maksud dari sikap antara kita yang semakin membingungkan. Kamu yang mempergunakan logika, dan aku yang selalu mepergunakan perasaan. Kita tak sejalan, kamu memang mudah sensitif dan mudah memahami suatu sikapku yang mulai berubah karena ulahmu. Dan sialnya aku selalu mudah luluh hanya dengan kata “maaf” yang kamu ucapkan, bodoh! bodoh sekali aku bisa dengan mudah selalu memaafkanmu dan mempercayai semua kata-kata bualanmu itu.
Kini semua berakhir yaa, rasa ini hanya bisa sampai pada titik rasa sakit yang kamu berikan. Kamu telah meninggalkan aku dengan kenangan yang berserakan disepanjang jalan dan berterbangan pada pekatnya langit malam. Sampai jumpa kasih, bila memang kamu suatu saat nanti mengingatku dan ingin datang kembali hubungi aku saja karena aku akan tetap disini ditempat yang sama saat pertama kali kamu mengetahui perasaanku.
Salam manis dari orang yang telah kamu lukai...

Senin, 10 Agustus 2015

Terabaikan

Masih teringat begitu jelas suara hangatmu ditelingaku, begitu seringnya aku mengingat apapun yang telah terjadi dulu. Aku masih mampu merasakan sentuhan jemari tanganmu menggenggam tanganku, aku masih mampu mengingat ucapmu yang menyuruhku untuk masuk kedalam rumah lebih dulu dan mengakhiri berbincangan kita malam itu, aku masih mampu merasakan hangatnya pelukmu yang menenangkan dengan penuh kasih sayang, aku masih mampu menngingatnya dengan amat sangat jelas.
 
Namun kini, hanya sekedar untuk  menatap wajahmu aku tak mampu, begitu lemahnya dayaku dengan kenyataan yang telah menamparku habis-habis-an. Kau tahu? Betapa aku menyayangimu, kau pun juga sempat mengungkapkan bahwa menyayangiku. Tapi mengapa kau melakukan ini semua padaku, dengan mudahnya kau pergi seakan tak mengingatku dan kembali dengan keadaan yang seakan tak ada hal yang telah membuatku merasakan sakit. Jika memang kau tak ada niatan untuk menjalin hubungan denganku lebih dekat, mengapa kau biarkan aku terjerumus dalam daya pikatmu itu? Mengapa kau biarkan aku terus berharap padamu yang akhirnya membuatku terpuruk? Apakah ini caramu untuk dapat pergi jauh dariku?? Hey, setelah kau membuatku seperti perempuan yang bodoh! Kau ingin pergi begitu saja tanpa ada perkataan untuk penjelasan dari sikapmu? Pengecut sekali kau!!!

Inikah yang kau bilang ingin rehat sejenak dalam percintaan bersama perempuan? Inikah yang kau bilang dengan trauma? Agaknya kau perlu sedikit berdiam diri dan merenungi segala perkataanmu yang telah kau ucapkan padaku, agar kau dapat menemukan titik kesalahan terbesarmu. Kau tahu rasanya menunggu itu tidak mengenakkan? Kau tahu rasanya disakitin? Lalu kenapa dengan seenaknya kau biarkan aku merasakan itu semua dari perbuatanmu. Memangnya kau ini siapa, hey pemuda kurus?!!

Kau pergi menghilang dengan sangat tiba-tiba sehingga membuatku merasa ada sedikit rasa yang hilang dengan perasaan yang penuh harap dan menunggumu tanpa henti, aku mencari tahu bagaimana keadaanmu, bagaimana kesibukkanmu saat itu. Aku terus memikirkanmu hingga pada akhirnya disuatu tempat yang ternyaman ini (kamar), aku berbicara kepada hati dan pikiranku untuk segera melupakanmu. Dan ternyata saat aku keluar, tampak sangat jelas kau lewat sekejap, mataku menangkap kejadian itu dengan sangat cepat. Aku sempat merasakan dilema yang tak berujung karena aku tak mengerti dengan rencana Tuhan untukku seperti apa akhirnya. Aku selalu bertanya-tanya dalam benakku. Seminggu sudah kau menghilang tanpa menaruh jejak sedikitpun, kemudian dengan santainya aku melakukan hal yang biasa setiap harinya yaitu mengecek sosial media. Lalu, jreengg..jrengg!! aku melihat sesuatu dengan nama yang tak asing kulihat, ternyata saat ku perhatikan itu adalah kau si pemuda kurus yang telah muncul kembali, kau menulis pada statusmu alhamdulillah dengan menggunakan emoticon (hug). Aku sangat terkejut, sehingga aku mengklik profilnya dengan cepat. Taraaaaaaaa...!!!! dia telah mengganti statusnya yang tadinya available  menjadi 25.04. (Itu tanggal dimana ia jadian dulu dengan mantannya ternyata kini mereka telah balikan). Menyakitkan sekali!!!

Aku lemas, dan tanpa sadar bulir-bulir air mataku menetes membasahi pipi. Begitu cepatnya semua berlalu seakan tak ada hal yang cukup indah untuk dihargai olehnya. Aku telah mengerti rencana Tuhan, bahwa aku harus pergi dan melupakan orang sepertimu. Terimakasih untuk semua hal semu yang kau berikan padaku, kini saatnya aku pergi.

Selamat untuk kembalinya kau bersama masa lalumu!