Bukan karena aku tak mampu
untuk menghilangkan bayang-bayang tentangmu, namun bayangmulah yang memaksa
untuk merasuki ke dalam pikiranku. Kamu akan mengerti betapa sulitnya posisiku
ini terhadapmu, aku ingin tetap maju tanpa ada kata mundur tapi keadaan selalu
menginginkan untuk aku mundur. Adilkah jika aku mundur dan orang lain yang
berhak memilikimu tanpa adanya perjuangan? Bagiku ini tak adil!
Senyuman manis itu, tawa canda
hangat itu, suara motormu yang terdengar berat, kacamata yang menghiasi matamu,
jemari tanganmu yang membuatku merasa aman bersamamu dan bisikan lembut dari
suaramu yang menggelitik telingaku. Masih tetap sama, tetap sangat begitu
memikat hati dan membuatku tersenyum semringah layaknya orang yang sedang
dimabuk cinta ketika aku mengingatnya.
Sebulan, 2 bulan percakapan antara kita terus
bergulir walau tak begitu sering. Kita semakin dekat seperti kakak-adik, kita
selalu bertemu menghabiskan waktu malam dengan canda tawa dan tingkah konyol
yang kita lakukan, saling memberikan sebuah ledekan kecil yang sangat manis. Hingga
pada akhirnya semua berakhir dengan kecupan hangat didahiku saat mengakhiri
percakapan. Begitu manis masa-masa itu yang kita lewati. Namun mungkin benar
jika status kakak-adik itu hanyalah status yang tertunda karena tak akan terjadinya sebuah hubungan yang
lebih dari itu.
Selang waktu 6 bulan, tak
terasa hubungan ini semakin tak jelas maksud dari sikap antara kita yang semakin
membingungkan. Kamu yang mempergunakan logika, dan aku yang selalu mepergunakan
perasaan. Kita tak sejalan, kamu memang mudah sensitif dan mudah memahami suatu
sikapku yang mulai berubah karena ulahmu. Dan sialnya aku selalu mudah luluh
hanya dengan kata “maaf” yang kamu ucapkan, bodoh! bodoh sekali aku bisa dengan
mudah selalu memaafkanmu dan mempercayai semua kata-kata bualanmu itu.
Kini semua berakhir yaa, rasa
ini hanya bisa sampai pada titik rasa sakit yang kamu berikan. Kamu telah
meninggalkan aku dengan kenangan yang berserakan disepanjang jalan dan
berterbangan pada pekatnya langit malam. Sampai jumpa kasih, bila memang kamu
suatu saat nanti mengingatku dan ingin datang kembali hubungi aku saja karena
aku akan tetap disini ditempat yang sama saat pertama kali kamu mengetahui perasaanku.
Salam manis dari orang yang telah kamu lukai...